• Apakah yang dimaksud dengan shalat Wustha ?

Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah 238 dijelaskan mengenai Shalat Wustha

(حَـٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٲتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَـٰنِتِينَ (٢٣٨

Peliharalah semua shalat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (shalat) karena Allah dengan khusyuk.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa shalat Wustha yang dimaksud adalah Shalat Ashar.

  • Apakah yang dimaksud dengan Sutrah untuk sholat ?

Dalam hadis nabi S.A.W

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia menolak , maka hendaklah engkau mendorongnya dengan kuat sebab ia sedang bersama qarin (setan)” (HR. Ibnu Khuzaimah, 1/93/1 sanadnya jayyid).

Sutrah adalah sesuatu yang diletakkan di depan orang yang shalat sebagai pembatas agar orang tidak lewat di depannya.

  • Bagaimana hukum membaca Al Fatihah dalam shalat ?

Dalam hadis nabi S.A.W

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ


“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Surat al-Fatihah.”(H.R Shahih Bukhari, Muslim, Abu ‘Awanah dan Al Baihaqi )

Dihapuskannya (Mansukhnya) kewajiban membaca Al-Fatihah di belakang Imam pada shalat Jahriyyah

Semula Nabi Muhammad S.A.W membolehkan para makmum membaca Al-Fatihah di belakang imam pada shalat Jahriyyah (yang bacaannya keras), di mana pada waktu shalat subuh beliau membaca Al-Fatihah lantas merasa berat melafazhkan dan mengeraskan bacaan beliau. Ketika shalat usai, beliau bersabda,

لَعَلَّكُمْ تَقْرَؤُوْنَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ. قُلْنَا : نَعَمْ، هَذًا يَا رَسُوْلَ الله! قَالَ : لَا تَفْعَلُوْا، إِلَّا [إِنْ يَعْرَأَ أَحَدُكُمْ] بِفَاتِحَةِالْكِتَابِ، فَاِنَّهُ لَاصَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْبِهَا

” Sepertinya kalian membaca surat di belakang imam kalian? ” Kami menjawab, ” Benar, dengan bacaan yang cepat, wahau Rasulullah! ” Beliau bersabda, ” Jangan kalian lakukan itu, kecuali [salah seorang di antara kalian membaca] surat Al-Fatihah, sebab tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya. ” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Juz’u al-Qira’ah Khalfa al-Imam, Abu Dawud, Ahmad, dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan ad-Daruquthni.)

Kemudian beliau melarang mereka membaca bacaan apapun pada shalat Jahriyyah, di mana ketika selesai melaksanakan shalat yang di situ beliau membaca dengan bacaan yang keras (dalam sebuah riwayat, itu adalah shalat subuh), beliau bersabda,

هَلْ قَرَأَ مَعِيْ مِنْكُمْ أَحَدٌآنِفًا ؟ فَقَالَ رَجُلٌ : نَعَمْ، أَنَا يَارَسُوْلَ اللهِ ! فَقَالَ : إِنِّيْ أَقُوْلُ : مَالِيْ أُنَازَعُ ؟

” Apakah tadi ada yang ikut membaca bersamaku? ” Seseorang laki-laki berkata, ” Ya, akulah orangnya, wahai Rasullullah!” Beliau bersabda, ” Aku mengatakan, ‘ Kenapa aku diusik (oleh bacaan lain)? ” (Al-Khaththabi)

Lantas orang-orang pun berhenti membaca bersama Rasulullah, yaitu pada shalat yang di situ beliau membaca dengan keras (jahr). Hal itu mereka lakukan ketika mereka mendengar ucapan Rasulullah tersebut, [selanjutnya, mereka pun membaca dalam hati dengan sirr pada shalat yang imam tidak membaca dengan keras]

Wajibnya membaca Al-Fatihah pada shalat Sirriyah

Dalam shalat Sirriyah (yang bacaannya dengan suara tak terdengar), beliau telah merestui (memberikan taqrir) bagi mereka untuk membaca (Al-Fatihah dan surat lain). Jabir berkata,

كُنَّانَقْرَأُفِي الظُّهْرِوَالْعَصْرِخَلْفَ الإِمَامِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ بِفَاتِحَةِالْكِتَابِ وَسُوْرَةٍ، وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِالْكِتَابِ

” Dulu kami membaca Al-Fatihah dan surat lainnya pada dua rakaat pertama Shalat Zhuhur dan Ashar di belakang Imam, sedangkan pada dua rakaat terakhir hanya membaca Al-Fatihah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad shahih. Hadits ini juga ditakhrij pada Irwa ‘al-Ghalil, no. 506)

  • Apakah ucapan shalawat untuk shalat dalam tasyahud menggunakan kata Sayyidina ( سَيَّدِنَا ) atau tidak ?

Ada hadist Ali R.A yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad S.A.W mengajarkan para sahabatnya cara bersahabat kepada beliau. Beliau mengucapkan

اَللهُمَّ دَاحِيَ الْمَدْحُوَّاتِ، وَبَارِيَ الْمَسْمُوْكَاتِ، اِجْعَلْ سَوَابِقَ صَلَوَاتِكَ، وَنَوَامِيَ بَرَكَاتِكَ، وَزَائِدَتَحِيَّتِكَ، عَلَى مُحَمَّدٍعَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ الْفَاتِحِ لِمَاأُغْلِقَ

” Ya Allah, Dzat yang menghamparkan bumi dan Pencipta langit! Limpahkanlah shalawat-shalawat (rahmat-rahmat) Mu terdahulu, keberkahan-keberkahanMu yang terus bertambah, dan penghormatanMu yang terus banyak kepada Nabi Muhammad, hamba dan RasulMu, pembuka bagi apa yang tertutup.”

صَلَوَاتُ اللهِ الْبَرِّالرَّحِيْمِ، وَالْمَلَائِكَةِالْمُقَرَّبِيْنَ، وَالنَّبِيِّيْنَ، وَالصِّدِّيْقِيْنَ، وَالشُّهَدَاءِ، وَالصَّالِحِيْنَ، وَمَاسَبَّحَ لَكَ مِنْ شَيْءٍيَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ، عَلَى مُحَمَّدِبِنْ عَبْدِ اللهِ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ

” Semoga shalawat Allah yang Mahabaik lagi Maha Penyayang, shalawat para malaikat yang dekat dengan Allah, para Nabi, ash-Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih, juga apapun yang bertasbih menyucikan namaMu, wahai Rabb semesta alam, dilimpahkan kepada Nabi Muhammad bin Abdillah, penutup para Nabi dan imam orang-orang yang bertakwa ”

اللهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ، وَبَرَكَاتِكَ، وَرَحْمَتَكَ، عَلَى مُحَمَّدٍعَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ، إِمَامِ الْخَيْرِ، وَرَسُوْلِ الرَّحْمَةِ

” Ya Allah, limpahkanlah shalawatMu, keberkahan dan rahmatMu kepada Nabi Muhammad, hamba dan RasulMu, imam kebaikan dan Rasul pembawa rahmat ”

Dari riwayat-riwayat di atas, tidak ada penggunaan lafazh سَيِّدِنَا yang biasanya setelah lafazh على , jadi urutannya adalah على محمد (tanpa سيدنا) , bukan على سيدنامحمد (dengan سيدنا) .

Wallahu a’lam bishowab